Rabu, 22 Februari 2012

ye(S) im (H)ide (O)ver and it (N)ever (E)nd

tidakkah kamu dengar, SHONE?
aku memanggil namamu ditengah sedih dan tangisan yang aku alami..

tidakkah kamu dengar, SHONE?
hati ini memanggil namamu untuk meredakan segala hal yang membuat hatiku terluka..

tidakkah kamu dengar, SHONE?
harap yang perih ini membutuhkan hadirmu sedangkan yang hadir kini adalah bidadari pengisi relung jiwamu yang mencoba menenangkanku dibalik lukaku karena dunia tak mengerti akan hadirku..

akankah kamu tau, akankah bintang penunjuk itu akan membalikkan hatimu?
untukku yang tak pantas akan segala anugerah dalam hidupku, dan indahnya dirimu. Untukku yang perlahan mengerti segala dentingan hidup ini memang nyatanya hadir kata mustahil oleh harapan dengan ungkapan kata "KITA"

seiring dengan hadirnya hembusan angin yang tiupkan awan hujan untuk sembunyikan tangisku, kau bawa aku kedalam segala kisah yang kudengar bukan dari lisanmu tapi alunan indah dari pelangi hari yang katakan padaku betapa ia mencintaimu, tetapi hadirmu ternyata tidak pula untuk polesan warna-warna indahnya yang sering hiasi langkahku..

pernahkah kau sadari, betapa adanya dirimu berarti untuk aku dan pelangi?
tidakkah kau ingin menyaksikan sang pelangi yang hadir setelah aku, sang hujan, yang ternyata membawanya menuju dirimu yang selalu menyanyikan melodi hanya untuk bidadari?

hampir bosan aku mengadu pada air yang selalu berikan kesejukannya manakala kuceritakan letihku akan dirimu sementara senyummu yang mencerahkan aku terkadang membuatku kehilangan tempat untuk meratapi takdirku yang mungkin digoreskan untuk tidak bersamamu. Ketika waktu itu tiba, seringkali bunga-bunga menyadarkanku bahwa tak pantas ku teteskan airmata ini untukmu yang tidak menyadari hadirnya aku..

sadarkah kamu, SHONE?
telah kau lukai pelangi, sang pelangi kesayanganku yang berulang kali datang padaku untuk sekedar mengeluhkan dirimu yang berikan sinarmu untuknya tetapi hanya menyilaukan matanya, bukan untuk menghangatkannya..

kamu tau?
langit merasakan hal yang sama denganku tetapi tidak ditujukan untukmu melainkan hanya untuk sang rembulan yang selalu ia nantikan tak peduli berapa malam yang ia habiskan..

bisakah kau berhenti sejenak padaku, SHONE?
tak taukah kau berapa hutan kusembunyikan diriku, tak ingin menyakiti dunia ini lagi dengan kisah usang yang telah berulang semenjak aku mengenal tapak-tapak cahaya dalam gua yang ditinggalkan sebelum aku mengenalmu?

sekali lagi, apa kau tau, SHONE?
bidadari telah begitu baik padaku. Dengan sayap yang kau berikan ia menemaniku dalam tangisku karenamu beberapa waktu yang lalu. Ia memelukku hari ini dan esok, begitu janji yang ia ucapkan. Tetapi aku kelu untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintaimu, SHONE. Aku kelu untuk mengatakan bahwa kutitipkan hatiku, yaitu perasaan yang takkan bisa lautan jelaskan ini kepadanya untukmu..

maka jagalah ia dengan segala sinarmu, hangatkan ia. Ya, kau tak perlu mengatakan apapun lagi padaku, SHONE. Aku sadar, hadirmu untuknya, untuk bidadari yang selalu kau banggakan diseluruh alam semesta. Cintai dia kuharap melebihi segarnya tetesan air saat terikmu menyinariku. Bahagiakan ia melebihi apa yang selalu kuturunkan kepada rerumputan..

sebegitu sulitkah?
kurasa tidak, karena kau adalah SHONE, sang matahari yang mampu buatku menangis, tertawa, merasakan tahun-tahun dimasa berhembusnya nafasku..

jadi, sekarang bisakah kau pelankan, hentikan lantunan gelimangan perhatianmu padaku? Agar tak ada yang tau, bahwa waktuku berhenti saat kulihat senyummu.



Dunia Nyata,
21 Februari 2021 _ 22:51




Atas nama Hujan